Masjid Al-Mukarramah, Site ke 46 UNESCO Global Geopark Meratus

Masjid Al-Mukarramah, Site ke 46 UNESCO Global Geopark Meratus

Kab. Tapin. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Proses Baayun Maulid di Kab. Tapin ini dilaksanakan di Masjid Al-Mukarramah atau juga dikenal sebagai Masjid Keramat Banua Halat. Masjid ini berada di desa Banua Halat Kiri, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin.

Menurut cerita, masjid yang dikeramatkan tersebut dibangun H. Syafrullah atau yang dikenal orang terdahulu sebagai Datu Ujung (dalam versi lain ada yang juga menyebutkan kalau masjid ini didirikan oleh Haji Mungani Salingnata pada tahun 1840). Datu Ujung ini memiliki kehebatan yang masih dikenal sampai sekarang, yaitu tiang miring. Tiang ini menjadi salah satu tiang utama di masjid tersebut.

Saat pembangunan masjid tersebut tiang-tiang masjid dicari Datu Ujung ke desa Batung, Kecamatan Piani. Menurut sejarah pula, tiang-tiang itu hanya ditendang Datu Ujung dengan kesaktiannya hingga bisa dihanyutkan ke sungai dan sampai di depan Masjid Keramat yang berada di pinggiran Sungai Tapin.

Setelah masjid selesai, warga mengadakan selamatan. Saat selamatan itu ternyata ikan untuk di makan warga kurang, lalu Datu Ujung berpesan kepada warga untuk jangan makan dahulu sebelum ia datang karena Datu Ujung akan mengambil ikan di Negara, Hulu Sungai Selatan. Warga pun tidak percaya, mengingat jarak antara Banua Halat dengan Negara sangat jauh, mustahil kalau harus menunggu Datu Ujung kembali dalam waktu singkat. Walhasil warga pun makan duluan, saat itulah Datu Ujung muncul dengan membawa banyak ikan. Melihat warga yang tidak mengindahkan pesannya tersebut, membuat Datu Ujung jadi marah hingga dia menghentakkan kakinya ke tanah hingga menimbulkan bekas tanah yang miring. Hingga sekarang, bekas pijakan tanah tersebut yang berada di di bagian pojok kanan masjid masih membekas.

Selain tanah miring tersebut, salah satu keunikan lain adalah Di salah satu tiang masjid, terdapat sebuah tiang yang mengeluarkan minyak. Tidak diketahui pasti kapan minyak itu keluar dan sebabnya. Banyak pengunjung masjid yang takjub akan hal itu. Bahkan mereka berebut mengelus sebuah tiang berminyak itu dengan kapas, tisu hingga lembaran uang kertas.

Namun Masjid ini pernah dibakar oleh Belanda. Pada saat terbakar, hampir seluruh material bangunan masjid yang berada di tepian sungai itu ludes. Yang tersisa hanya satu tiang utama yang kini terus mengeluarkan minyak itu. Kemudian, pada tahun 1862 Masjid Al-Mukarromah dibangun kembali

Proses Baayun Maulid di Mesjid ini sudah dimulai pada tahun 2000an. Menurut catatan panitia, awalnya hanya 265 Ayunan, dan mulai naik setiap tahunnya. Sekitar 2007 s.d 2008 sudah mulai masuk 1000an Ayunan dan mulai tahun 2009 sampai sekarang sudah menyentuh angka 2000 sampai 5000 peserta.

Pada Tahun ini berdasarkan laporan Panitia Pelaksana, tercatat 3160 peserta dengan usia tertua 96 Tahun dan yang paling muda 20 hari. Mesjid ini juga merupakan site nomor 46 dari UNESCO Global Geopark Meratus, site yang menarik untuk dikunjungi dengan segala sejarah dan keunikan nya hingga diberi gelar Mesjid Keramat Banua Halat, Kabupaten Tapin.

Post Comment