Hj. Saidah : Adakah buhan pian yang mau jadi menantu ulun?

Hj. Saidah : Adakah buhan pian yang mau jadi menantu ulun?

Banjarmasin.” Adakah buhan pian yang mau jadi menantu ulun?” Ucap salam dari Dayu Wijanto, Pemeran Hj. Saidah dalam film Kuyank saat Cinema Visit ke XXI Banjarmasin di Duta Mall, Banjarmasin yang disambut dengan gelak tawa dan jawaban “kadada…..kadada……” dari penonton di studio, termasuk dari Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan yang mendapat undangan untuk turut berhadir dalam kegiatan tersebut.

Film Kuyank adalah sebuah film horor Indonesia yang disutradarai oleh Johansyah Jumberan dan diproduksi oleh Darihati Films sebagai prekuel dari film Saranjana: Kota Gaib. Film ini dirilis perdana di bioskop seluruh Indonesia pada 29 Januari 2026. Syuting film dilakukan di berbagai wilayah di Kalimantan Selatan dengan mengangkat folklor dan kultur lokal etnis Banjar serta melibatkan para pelaku seni dan warga lokal.

Kehadiran film ini juga secara langsung maupun tidak langsung mengangkat budaya Kalimantan Selatan, warisan tradisi urang bahari, termasuk tempat-tempat pengambilan gambar yang mengangkat destinasi menarik di daerah.

Ketika ditemui bersama dengan Sutradara dan Produser Film Kuyank, Johansyah Jumberan, Kepala Bidang EK2PSDMP, Liza Verawaty, S.Sos menyatakan bahwa karya kreatif seperti “Kuyang” menjadi media promosi yang efektif untuk memperkenalkan potensi daerah.

“Kami sangat mendukung karya-karya film yang mengangkat kearifan lokal Kalimantan Selatan. Film seperti ‘Kuyang’ bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana promosi budaya dan pariwisata yang sangat kuat,” ujar Liza.

Ia menambahkan, momentum ini harus dimanfaatkan untuk mendorong promosi destinasi wisata berbasis budaya di Kalsel. Dengan meningkatnya rasa penasaran masyarakat terhadap legenda kuyang, wisata berbasis cerita rakyat dan sejarah lokal berpotensi dikembangkan lebih luas.

“Ketika budaya lokal diangkat secara kreatif, dampaknya bisa luas, termasuk pada UMKM, kriya, kuliner, hingga sektor pariwisata. Ini peluang besar bagi ekonomi kreatif masyarakat,” tambahnya.

Semoga dengan kehadiran film Kuyank dan film-film berakar budaya Kalimantan Selatan yang lainnya akan membuka semakin meningkatnya ekonomi kreatif dan pariwisata di banua.

Post Comment